Hard News: Harga BBM Naik, Warga Keberatan
Harga
BBM Pertalite, Solar, dan Pertamax resmi dinaikkan pada Sabtu (9/3) pukul 14.30
WIB. Hal itu disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dalam jumpa pers di Istana
Merdeka. Pengumumannya dapat dilihat di Youtube Seknas bersama para menteri.
Harga pertalite berkisar antara Rp 7.560 per liter hingga Rp 10.000 per liter.
Subsidi solar dari Rp 5.150 per liter menjadi Rp 6.800 per liter. dan Pertamax
mulai dari Rp 12.500 hingga Rp 14.500. Namun sebelum itu, harga BBM nonsubsidi
turun sekitar Rp 500 – Rp 2.000 per Kamis (19/222), tergantung provinsi.
Seorang
warga bernama Wildan, merasa resah dengan adanya berita ini. Ia seorang pegawai
pabrik yang tempat kerjanya jauh dari rumahnya, sehingga ia sering menggunakan
kendaran bermotornya untuk bekerja. Dalam seminggu ia mengisi sampai 5 liter
Pertalite untuk kegiatan sehari-harinya. Ia juga tidak setuju dengan naiknya
harga BBM ini karena mengakibatkan ia untuk mengeluarkan biaya lebih untuk
mengisi bensin.
Namun
Pradana, seorang warga yang melakukan double job atau pekerjaan dobel sebagai
driver Shopee Food dan Gojek serta Marketing Property, berpendapat sedikit
berbeda. Ia menjelaskan bahwa ia tidak terlalu kaget dengan adanya kenaikan
harga BBM ini.
“Ya
mau ga mau harus naik sih BBM nya,” ujar Pradana.
Pradana
menjelaskan bahwa pendapatan selama ini lebih banyak didapatkan dari menjadi
ojek online daripada marketing property. Oleh karena itu, ia membutuhkan untuk
pergi kesana-kemari bersama kendaraan bermotornya untuk bekerja. Pradana
membutuhkan dua kali dalam sehari, waktu ramai pelanggan, untuk mengisi bensin.
Sebanyak 3 liter Pertalite untuk sekali isi, jadi biaya yang ia keluarkan dalam
sehari dapat mencapai Rp 60.000,-.
Wildan
dan Pradana mengatakan bahwa mereka keberatan dengan kenaikan harga BBM ini.
“Keberatan
sih, tapi bagaimana lagi, kalau dibiarin lama-lama kita yang kesusahan, karena
kalau melihat di berita kan mau gak mau memang harus naik, karena juga untuk
mengurangi beban negara,” jelas Pradana.
Wildan
menjelaskan bahwa ia setuju dengan adanya demo BBM,
“Jika
tidak ada aksi, pemerintah enggan ada reaksi,”
Pradana
pun juga berpendapat sedemikian,
“Setuju
saja, selama tidak menganggu kegiatan umum, terutama sekarang alhamdulillah
tidak ada swiping sesama ojol, karena dulu ada ketika demo ada oknum sesama
ojol yang melakukan swiping, tidak memperbolehkan ojol lain untuk bekerja,”
Sofia Fasya Nadhira
NIM : 22041184200
Comments
Post a Comment