Soft News: Mengapa Gen Z Berkomunikasi Secara Klasik

Tema: Disrupsi

            Surabaya — Sekarang ini sudah memasuki era digital yang hampir semua kegiatannya berhubungan dengan teknologi. Dari sini, banyak stereotipe mengatakan bahwa Gen Z lebih suka berkomunikasi secara online karena lebih efisien di beberapa hal. Namun, dari survey yang telah dilakukan, mayoritas Gen Z di Indonesia ternyata suka berinteraksi antar sesama dengan cara yang klasik atau sering disebut juga face to face daripada daring atau melalui cyberspace (dunia maya). Salah satu alasannya adalah agar interaksi terus berjalan tanpa adanya konflik di antara mereka akibat dari salah paham dalam menyerap pesan saat berkomunikasi.

            "Alasan gue sebagai Gen Z milih face to face dalam berkomunikasi karena menurut gua kalo komunikasi online tuh kita cuma bisa membaca pesan teks dan kita gak bisa melihat ekspresi orang tersebut, lalu kurang efektif juga sih hahaha. Satu lagi, kita gak bisa mengungkapkan dengan akting, gerak, dan lain-lain. Lo tidak bisa melihat apa yang ingin ditunjukkan orang itu dan lo juga gak bisa menunjukkan apa yang ingin Lo tunjukkan." Kata Rizki Rivanza, Gen Z yang sedang menempuh pendidikan jurusan komunikasi di Jakarta.

            Berkomunikasi secara face to face berperan penting dalam mempertahankan interaksi antar individu agar tidak terhenti. Mengapa demikian? Karena ditakutkan adanya kesalahpahaman dalam penyerapan pesan yang disampaikan lawan bicara jika dilakukan komunikasi secara online atau melalui cyberspace.

            "Nah, berkomunikasi secara face to face menurut gua lebih mudah untuk dipahami dan memahami orang lain atau lawan bicara kita. Dan secara gak langsung kita bisa meminimalisir perpecahan gara-gara miskomunikasi." Lanjut Rizki saat diwawancara.

            Dari cara berkomunikasi dapat menandakan bagaimana mereka bisa lebih bersatu dan lebih maju kedepannya. Gen Z sangat berperan penting untuk saling bekerja sama dan sadar untuk memajukan kehidupan mereka sendiri dan masyarakat sekitar di berbagai aspek. Dapat dilakukan dari hal-hal kecil, seperti yang disebutkan sebelumnya yaitu dengan berkomunikasi secara face to face. Secara tidak sadar, dampak yang ditimbulkan cukup besar untuk merubah kehidupan menjadi lebih baik tanpa adanya konflik antar golongan akibat dari kesalahpahaman tadi.

            "Komunikasi face to face emang kerasa lebih bebas mengekspresikan diri dengan lawan bicara sih menurutku." Kata Lukman Hakim, salah satu Gen Z asal Pasuruan yang memiliki pemikiran sama terhadap cara Gen Z berkomunikasi secara klasik/face to face.

            Jika komunikasi dilakukan penuh secara online atau melalui cyberspace (dunia maya), masing-masing individu tidak dapat mengetahui ekspresi serta emosi yang digunakan satu sama lain saat berkomunikasi. Dan juga jika terbiasa berkomunikasi secara daring dapat menyebabkan mental tidak berani untuk memulai percakapan secara langsung dengan Gen Z lainnya.

Nama: Joean Abiyozza

Nim: 22041184126

 

Comments